Kartu pos isi beras

IMG_3820.JPG

IMG_3821.JPG

Beli ini seharga kurang dari 500 yen di toko suvenir Kakunodate, prefektur Akita, Jepang. Akita adalah prefektur yang terkenal dengan penghasil beras (emang sih nasi di sana pulen bener) tapi gw tidak menyangka mereka juga membuat kartupos isi beras!

Menurut rumor yang beredar (kata teman gw yang menanyakan kata-kata keterangan di kartu pos itu pada supervisor yang orang Jepang) ini kartu tinggal digunting dan beras pub akan keluar. Gokil yeee! Bisa lah buat satu porsi ngemil sepertinya.

Dodolnya adalah gw menyangka gerindilan itu adalah semacam spons yang melindungi banyak kartu pos di dalamnya dari lecek-lecek. Yap, gw pikir itu adalah satu paket kartu pos karena bentuknya yang tebal. Isi sepuluh atau dua belas bisa kali. Pas udah capek-capek beli prangko di Lawson pake bahasa Jepang plus bahasa tubuh, kok ini kartu pos ga bisa dirobek yah. Kok.. Kok.. Kok… Barulah gw sadar kalo that is the whole package kali Nien.

*tepok jidat*

Untung cuma beli sebiji. ya mahal juga lah nien kalo jajan kartu pos doang

Di sisi lain, ini membuktikan kreatifnya orang Jepang ye!

Dengan kaitkata

Kartupos Tazawako

Dari toko suvenir di danau Tazawa, prefektur Akita, Jepang. Murah dan bagus! Hanya 430 yen isinya 12 buah dan rupanya ga ada di toko suvenir lain. Sedikit menyesal ga beli banyak hehehe.

IMG_3647.PNG

Dengan kaitkata

Omiyage

Oleh-oleh senpai dari Jepang walau sebenarnya yang diharapkan adalah Sakurai Sho muahahahaha. Arigatou gozaimasu~

20140703-221359-80039323.jpg

20140703-221401-80041241.jpg

20140703-221357-80037489.jpg

20140703-221358-80038402.jpg

20140703-221400-80040286.jpg

Dengan kaitkata

Terlupakan :(

20140429-225058.jpg

Hidup itu berputar bagai roda, kadang di atas, kadang di bawah. Begitu pula dengan semangat, dalam konteks ini semangat gw menulis kartu pos.

Sejak lebaran dan tiba-tiba kiriman surat dan kartu pos ke rumah gw kacau, semangat mulai melempem. Gw pun mulai vakum postcrossing. Kotak pos yang tiap hari dicek menjadi terbengkalai. Sehari menjadi sepekan. Sepekan menjadi dua pekan. Dan berbulan-bulan terabaikan.

Godaan digital kembali mewarnai hidup.

Sampai barusan pulang ke rumah dan melihat beberapa kartu pos tergeletak.

Oh. Tanti dari Swedia! Tanti yang sebelumnya bertukar surat dari Sukabumi, kadang Jogja. Sekarang si neng sedang mewujudkan mimpi-mimpinya. Dan kartu pos ini dicap tanggal 29 Januari 2014. Berbulan-bulan lalu.

Ups. Maaf Tanti karena gw melupakan kotak pos. Sejak vakum dari postcrossing dan dipastikan tidak menerima kartu pos lagi sebelum gw kembali aktif, kotak pos memang jadi pajangan di pagar.

Tapi gw lupa kalau masih ada penpal-penpal yang setia memberi kabar dan sepertinya bingung kenapa gw seakan ditelan bumi :(

20140429-225109.jpg

20140429-225116.jpg

20140429-225123.jpg

Dua kartu pos di atas dikirim oleh penpal setia dari Jerman, Matthias, yang kerap menghubungi lewat email untuk sekadar pamer foto salju atau banjir di dekat rumahnya.

*terharu*

Sepertinya dalam waktu yang tidak lama lagi gw akan kembali berdekatan dengan kantor pos, semoga bisa kembali menumbuhkan semangat tulis menulis (pakai kertas dan pulpen) lagi serta membalas kartu pos dari kawan-kawan di luar. Semoga!

Dengan kaitkata ,

Siem Reap, Kamboja

20140406-122956.jpg

Heyho!
Gw mampir sekejap ke Siem Reap, Kamboja dan menemukan banyaaaak kartu pos menarik. Sayangnya dijual dengan dolar AS. Mengingat di Jakarta butuh cucuran peluh dan penat yang luar biasa demi mengais lembaran tebal rupiah yang pada akhirnya hanya berwujud satu-dua lembar dolar AS, gw memutuskan untuk tidak kalap.

Kartu pos ini gw beli di Night Market yang awalnya mematok harga 1 USD per lembar.

“SEBELAS REBU BUAT SELEMBAR KARTU POS KUALITAS MIRIP SAMA KARTU POS JADUL DI GRAMED?” gw berkata dalam hati.

Saat itu pukul 23.00, penjual sudah lelah dan bete. Dia akhirnya mau melepas seharga 1 USD untuk dua lembar. Sebenarnya menurut gw itu juga masih kemahalan, tapi ya sudahlah karena kami buru-buru hajar aja. Beli juga cuma dua biji. Nyehehhe.

Gampang banget cari kartu pos di Siem Reap karena ada di berbagai toko, termasuk mini market sekitar. Di Mini Market lebih kece namun harganya pun kece. Sedolar selembar tapi sebanding sama kualitas. Berhubung gw berusaha ngiriiit jadi cukup dilihat-lihat saja.

Di Angkor Wat juga ada anak-anak jual kartu pos tapi maksa. Biasanya mereka gangguin turis asing non Asia yang mukanya bete banget karena bener-bener ditempelin dan dipaksa-paksa. Tadinya gw hanya ngeliatin sebagai penonton (lagi ngaso di dalem candi). Setelah si target benar-benar menolak, anak kecil itu mengalihkan pandangan dan bersirobok dengan mataku. Auw!

Langsung deh: “One dollar… One dollar.. Ten postcard one dollar..”

Tergoda sih. Tapi tapi low quality gitu. One dollar bisa buat beli air minum 1,5 liter dan Siem Reap panasnya luar binasa. One dollar bisa buat makan. One dollar bisa untuk…
Ya intinya mah kere.

“No” kami menolak. Masih bersikap manis.

“Aaahhhh… Please please one dollar… Beli dong… Beli dong… Beeeellliiiiiiii”

*mulai gengges*
*cuekin*

“Beliii!!”
“Bokek, dek!”
“Beliiii!”
“Kita udah beli kartu pos,” timpal Tisha, temen yang duduk di sebelah gw.

“Tapi lo belum beli dari gw!” Kata si anak kecil.

Hadeh.

“One dollar pleaseee.”
“Bokek. “
“Boong! Gw tau di tas lo ada duit!” kata si bocah sambil nunjuk-nunjuk ransel gw.

Ya sudah. Diemin aja. Udah sering baca modus pemaksaan kaya gini jadinya cuekin aja. Lagian jualnya pake dolar, kan sakit hati bawaannya ngitung kurs rupiah.

Akhirnya dia menyerah dan berlalu. Kemudian ibunya datang dan marahin dia karena gagal memaksa. Ya ampun.

Dan gw berhasil mengabadikan si anak penjual kartu pos dengan candid pas dia lagi maksa ngasong-ngasongin keranjangnya. Setelah dilihat-lihat penampilannya memang bikin hati meringis. Tapi yahhh… Sebagai warga Jakarta yang sudah melihat pengemis pulang “kerja” dijemput anaknya naik motor atau nenek ngemis sambi ngerokok dan ngitung lembaran lima puluh rebuan gw jadi agak mati rasa.

20140406-123011.jpg

20140406-124940.jpg

Dengan kaitkata