Arsip Bulanan: November 2011

11.11.11

Penpal dari jerman, Opa Matt, menawarkan kartu dengan cap pos 11.11.11. Memang murahan, gw mau aja lah, gratis inih. Ternyata gak kalah sama kartu pos 11.11.11 Sekal1 Seumur H1dup versi Pos Indonesia :p

Dengan kaitkata

Kartu Persegi dari Belgia

Dikirim dari Belgia, pengirimnya orang Rusia. Terima kasih Olya yang sudah memilihkan kartu unik, berwarna-warni, berbentuk aneh, dan lucu! Terharu banget akhirnya ada pengirim yang memilihkan kartu sesuai dengan preferensi si penerima ♣

Dengan kaitkata , ,

Birthday Cards

Feliz Cumpleanos from Spain

 

Birthday edition,

 

Van Harte (dutch) means From My Heart

Lovely handwriting

 

Handmade Postcard from Italia

Dengan kaitkata , ,

Perangko Pramuka Paraguay

Waktu SMP gw adalah aktivis Pramuka. Sekolah gw itu memang menonjolkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler unggulan. Pokoknya Pramuka 49 eksissss. Banyak acara menyenangkan saat itu yang berhubungan dengan Pramuka, termasuk pameran dari Museum Pos Indonesia. Di sekolah, berjejer meja bazar yang menjual benda pos, termasuk perangko. Ternyata seragam Pramuka Paraguay mirip seperti di Indonesia ya! Hanya berbeda warnanya saja. Gw membeli perangko ini dengan harga delapan ribu rupiah. Cukup mahal untuk ukuran tahun 2004. Seharga dengan empat mangkok soto di kantin sekolah (2.500 udah mewah banget pake ayam dan baso abal-abal).

Jadi inget kenapa waktu SMP gw kurus (bahkan saat itu udah dinilai chubby). Itu karena tidak ada makanan berlemak di kantin SMP!

  1. Seporsi nasi goreng (porsinya dikit banget tapi buat gw dulu itu mengenyangkan). Gak terlalu enak sih, kebanyakan minyak, gak terlalu ada rasanya, dan cuma make seiprit sosis murah (gw jarang makan sosis mahal yang enak jadi sampe sekarang gak suka sosis. Di rumah juga gak pernah masak sosis). Pengalaman tak terlupakan adalah saat menggigit sesuatu yang keras: paku besar berkarat. Gw tidak pernah membelinya lagi sampai lulus sekolah.
  2. Mie. Bisa goreng, bisa rebus. Bisa bayangkan betapa sebentarnya waktu istirahat di SMP yang pelajarannya hanya berlangsung setengah hari? (Alhamdulillah jaman dulu masih punya banyak waktu untuk  bermain dan bernafas. Gak cuma belajar doang selama tiga tahun) Waktu yang ada tidak cukup untuk melayani gerombolan bocah lapar bila menunggu mie matang. Jadi? Semua mie keras. Cuma dicelupin… 20 detik? Tapi gak ada yang protes. Entah karena lapar, bodoh, atau merasa mie keras memang enak. Kalo gw sih diem aja karena tidak ada pilihan lain. Hiks.
  3. Somay. Enak sih tapi porsinya dikit.
  4. Nasi soto. Paling mewah dan enak. Mewahnya kaya gimana? Hmm pada dasarnya itu adalah nasi dengan kuah bening soto + toge + sejumput kecil daging ayam. Ditambah baso (yang rasa dagingnya tidak terasa, hanya ada rasa-rasa tepung kanji) bila kau mau membayar tambahan lima ratus perak. Bebas lemak. Tapi itu adalah menu favorit gw.
  5. Risol. Isinya sayuran.

Nah, hanya itu menu di SMP gw. Tak ada lemak, bukan? Apalagi pelajaran olahraga yang benar-benar menuntut siswanya untuk berlari di sepanjang jalan raya bogor. Gw dulu lari gila-gilaan sampe bibir rada biru saking capeknya. Tapi beneran jadi kurus ;)

Dengan kaitkata ,

Eiffel I’m in Love

Adalah judul film yang hits banget waktu gw SMP-SMA. Kalo gak salah sih kelas 3 SMP. Gara-gara Samuel Rizal, nampaknya imej pebasket mulai digila-gilai ABG pada saat itu (walau gw lebih suka yang geek dari dulu). Kalo dipikir-pikir lagi sekarang sih ada beberapa lubang dalam plot yang membuat gw bingung sama ceritanya. Yaaah… kalo dulu sih ikut mainstream  aja lah yeee. Maklum masih labil, anak SMP gitu looookh *dahak*

Film ini membawa sebuah kenangan yang sangat memalukan. Masa-masa ABG labil yang mencari jati diri dan baru merasakan banyak hal untuk pertama kalinya. Kalau bisa kembali ke masa lalu, gw akan menonton ke studio sebelah yang lagi memutar film Harry Potter (I still remember it clearly).

Siapa yang bisa motoin Monas di malam hari dengan apik? Kalo bagus bisa jadi saingan Eiffel dong!

Dengan kaitkata , ,