Agus Leonardus

image

image

Beberapa bulan lalu, saya dan Deny mendapat tugas untuk membuat artikel. Kami memutuskan untuk mengangkat tema Kartu Pos. Lalu kami bertemu dengan Nobi yang jualan kartu pos online, janjian dengan Kiram penggagas Card To Post, dan menelepon Agus Leonardus, fotografer di balik kartu pos yang bisa ditemukan di seantero Jogjakarta.

Dari semua kartu pos buatan Indonesia, karya Pak Agus lah favorit saya. Makanya, tiap orang yang pergi ke Jogja selalu saya titipi untuk membeli kartu pos itu. Saat mewawancara beliau via telepon, saya bercerita tentang hal itu. Beliau saat itu menawarkan untuk mengirimkan kartu pos cetakan terbaru untuk saya 😀

Bulan-bulan berlalu, saya mendapat SMS dari Pak Agus yang menanyakan alamat rumah. Beberapa hari kemudian, kartu pos yang baru dicetak itu sampai ke tangan saya. Bau kartu pos yang baru keluar dari percetakan memanjakan hidung saya. *sniff sniff*. Beneran, wangi kertas baru!

Rasanya seperti dikirimi terbitan baru Harry Potter langsung dari JK Rowling!

Namun, artikel yang kami buat dianggap belum layak muat. Maklum,saat itu masih newbie (sekarang juga masih kaliiii). Daripada terbengkalai di harddisk, lebih baik dimuat di blog. Toh sama-sama bisa dibaca orang lain. 

Terima kasih Pak Agus atas kiriman kartu pos yang kereeeeeeen sekali. Pas banget saya emang lagi ngiler liat katalog di facebook kartu pos postcard dan merana karena nggak bisa ke Jogja untuk belanja kartu-kartu yang baru dicetak, ehh..dapat kiriman langsung. Semoga popularitas kartu pos kembali menanjak seperti dulu. Ditunggu karya-karyanya yang terbaru :). Anyway, artikel tentang Card to post itu tanggung jawabnya Deny, hihihi. Terima kasih juga untuk Nobi yang udah menyempatkan waktunya ngobrol dengan gw… maaf ya udah nunggu lama ternyata artikelnya cuma bisa nongol di blog 😦

Beli Kartu Pos Lewat Internet

Ingin melihat kartu pos yang berbeda? Coba tengok karya Agus Leonardus, fotografer asal Jogjakarta yang juga menggeluti bisnis kartu pos sejak tahun 1985.

Biasanya kartu pos bergambar pemandangan atau objek wisata, namun kartu pos buatan Agus berbeda. Tak hanya pemandangan, ia juga mencetak kartu pos bergambar kehidupan manusia, reproduksi iklan enamel masa lampau, dan gambar kartu pos kuno.

 “Dulu kartu pos di Jogja kurang bagus, padahal ada banyak turis yang berpotensi jadi pembeli,” tutur Agus.

Tadinya Agus hanya jadi distributor kartu pos milik temannya hingga ia memutuskan untuk memproduksi kartu pos yang murni hasil karyanya.

Berawal dari bisnis, kini membuat kartu pos jadi kepuasan batin bagi lelaki yang meraih Lisensi dari Royal Photography Society of Great Britain di 1982. Uang bukanlah motivasi utama bagi Agus, yang terpenting adalah rasa puas melihat foto-fotonya tersebar luas.

“Tadinya saya cuma bikin tempat-tempat wisata yang pasti laku di pasar, seperti candi. Tapi sekarang saya pilih gambar yang saya suka walau belum tentu laku di pasar,” tutur Agus yang sempat menerbitkan kartu pos seri gunung Merapi.

Fotografer yang aktif sejak tahun 1977 ini mengaku peminat kartu pos berkurang drastis. Sebelum krisis ia bisa mencetak 10ribu lembar tiap gambar. Dalam setahun kartu posnya laris dan tak jarang harus cetak ulang hingga tiga kali. Namun kini ia hanya mencetak 1000 lembar per gambar. Untuk gambar yang laris, ia bisa memproduksi hingga 2000 lembar.

“Sekarang jadi lebih spesial karena kartu posnya sulit dicari,” katanya sambil tertawa.

Namun ia merasa mulai ada geliat dari pecinta kartu pos yang menguber hasil karyanya. Kini mulai muncul kolektor kartu pos dari kalangan anak muda.

“Sering ada mahasiswa datang ke rumah saya buat ngobrol bahkan minta tanda tangan,” kata peraih penghargaan Federation Internasionale DeL’art Photographique, Belgia.

Kehadiran internet membantu penyebaran kartu pos Agus Leonardus hingga ke luar Jogjakarta. Para kolektor kartu pos di luar Jogjakarta bisa membeli kartu pos Agus lewat akun facebook Kartupos Postcard. Dibantu oleh kakak iparnya, Siska, yang mengurus pemasaran kini kartu pos karya Agus bisa ditemui di Surabaya, Semarang, Bandung, dan Jakarta.

Agus mengaku tak berminat bekerjasama dengan perusahaan yang memproduksi kartu pos. Permintaan dari fotografer lain yang ingin menitipkan fotonya untuk dicetak jadi kartu pos pun ditolak.

“Saya ingin membuat kartu pos yang murni koleksi saya,” pungkasnya.

Postcard around the world

Agus Leonardus tak sendirian. Kini penggiat kartu pos mulai bermunculan.

Merasa sia-sia jika hasil jepretannya hanya disimpan di harddisk, Novita Eka Syaputri (22) mengolah koleksi fotonya menjadi kartu pos.

Lewat situs The Postcard Around The World (PATW), Nobi –panggilan akrab Novita- dan rekannya Febry Fawzy bekerjasama menjual kartu pos cetakan sendiri. Rekan sekampus ini kebetulan punya hobi yang sama: fotografi dan travelling.

Keduanya lalu bergabung di situs Postcrossing, tempat berkirim kartu pos dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Namun, mereka tak banyak menemukan kartu pos Indonesia yang berkualitas.

“Jadul banget kartu pos di toko-toko. Udah harus diperbarui,” kata Nobi.

Prihatin dengan kondisi kartu pos di Indonesia, mereka ingin membuat perubahan. Seminggu berembuk, mereka merealisasikan PATW sebagai alternatif bagi para pecinta kartu pos.

Walau baru dua bulan berjalan, sudah ratusan kartu pos terjual. Nobi mengaku promosi hanya mengandalkan akun jejaring sosial dan mulut ke mulut. Namun,pembelinya kini merambah hingga ke luar pulau Jawa.

Nobi bercita-cita agar ragam kartu posnya sesuai dengan nama tokonya: dari seluruh negara. Saat ini koleksi gambar kartu posnya memang baru mencakup sebagian tempat di Indonesia dan negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Banyak orang meminta Nobi untuk membuat kartu pos dengan gambar tertentu, seperti makanan tradisional dan kawasan Indonesia yang didaulat jadi world heritage dari UNESCO.

Pengennya bikin proposal ke maskapai penerbangan Indonesia, cari sponsor buat ke jalan-jalan gratis demi nyari foto,” tutur mahasiswi program studi periklanan yang sedang mempersiapkan kelulusan.

Kecintaannya pada kartu pos dibarengi dengan ambisinya mempromosikan keindahan Indonesia pada dunia. Bagi Nobi, harusnya jadi strategi memamerkan pariwisata Indonesia. “Kartu pos itu oleh-oleh yang paling murah dan bisa bercerita banyak tentang suatu tempat,” jelas Nobi.

Nobi mengaku laba yang dihasilkan dari menjual kartu pos ini tidak seberapa. Walaupun begitu, ia tetap ikhlas menjalankan usahanya. “Gue emang seneng ngerjainnya, yang penting bisa buat jajan” pungkas Nobi.

Iklan
Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: