Tag Archives: Indonesia Mengajar

Surat cinta dari pengajar muda



Setelah beberapa bulan mengabdi di Kalimantan Timur, teman saya yang menjadi pengajar muda akhirnya menepati janji untuk mengirim surat. 

Delitus (nama kesayangan Della) adalah pengajar muda ketiga yang berkorespondensi dengan saya selama mengajar di pelosok Indonesia. 

Terima kasih Del, jemari saya mulai gatal untuk menulis dengan pulpen dan kertas (kalau sehari-hari kan jempol yang gatal karena mengetik tanpa henti di layar handphone). 

Btw, wayang hanya properti dari oleh-oleh acara Twitter Indonesia. 

Iklan
Dengan kaitkata , , ,

Kartu Cinta dari Bima

Bulan-bulan telah berlalu semenjak gw mengirimkan beberapa lembar post-it berisi pesan singkat dari segelintir teman untuk Mutia, pengajar muda yang mengabdikan hidupnya selama setahun di Bima. Teringat saat gugup dan gundah gulana di H-1 sidang kelulusan, tiba-tiba ada SMS masuk berisi dukungan moral. Walaupun mungkin saja itu hanya SMS basa-basi yang dikirimkan secara massal, mood gw langsung melejit tinggi hingga langit ke tujuh. Ingin rasanya membagikan rasa itu pada Mutia yang sedang berjuang mencerdaskan anak bangsa di pedalaman 🙂

Dan sore ini balasan dari Mutia telah datang. Tak tanggung-tanggung, suratnya panjang seperti cerita bersambung di majalah remaja. Apalagi ada bonus berisi kartu-kartu buatan para murid yang ditujukan untuk tiap teman yang menulis pesan untuk Mutia.

Proses menulis kartu ini penuh revisi lho.

Seperti yang ditulis oleh Mutia,

Anak-anak pun serius mengerjakan sampai-sampai ada yang buat..’rajin belajar di sana juga ya!’.. Dia kira surat buat teman sebayanya 🙂

Kemudian banyak yang bertanya, ‘Bu, ini siapa?’.

Sampai bilang: ‘Tidak boleh tulis begitu, ini buat yang lebih tua. Ganti!’

Ini jangan dikasih Assalamualaikum dan doa-doa ya Nak (karena nasrani).’ 

Pengumpulan kartu ucapan hingga cukup layak dikirim butuh beberapa kali verifikasi dan pengulangan + waktu.

Lucu dan terharu membaca kartu-kartu itu. Karena kami ini adalah teman dari ibu guru, maka sebutannya bukan lagi kakak, tetapi bapak dan ibu. Kartu yang dibuat dengan segala kesederhanaan, namun sangat mengena di hati. Terima kasih Mutia dan murid-murid di NTB 😀

Wahai (sebagian) Comm07, inilah kartu untuk kalian!

Dengan kaitkata , ,